APA ITU STUNTING?
Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang terjadi akibat asupan nutrisi yang tidak mencukupi dalam jangka waktu lama, biasanya disebabkan oleh pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Kondisi ini dapat mulai terjadi sejak janin masih berada dalam kandungan dan umumnya mulai terlihat ketika anak mencapai usia dua tahun (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016). Stunting serta masalah gizi lainnya yang terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik dan meningkatkan risiko terkena penyakit, tetapi juga dapat mengganggu perkembangan kognitif, sehingga berdampak pada tingkat kecerdasan saat ini maupun produktivitas anak ketika dewasa nanti.
APA PENYEBAB STUNTING?
Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi yang berlangsung dalam jangka waktu lama atau bersifat kronis. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami kekurangan nutrisi antara lain:
ibu mengalami gizi buruk atau infeksi selama masa kehamilan
anak tidak memperoleh ASI eksklusif
kualitas gizi makanan pendamping ASI (MPASI) yang kurang memadai
serta adanya penyakit yang mengganggu penyerapan nutrisi seperti alergi susu sapi atau sindrom malabsorpsi.
infeksi kronis seperti tuberkulosis dan cacingan,
Penyakit bawaan seperti kelainan jantung bawaan atau talasemia, juga dapat menjadi penyebab terjadinya stunting.
Faktor lain yang dapat menyebabkan stunting meliputi infeksi pada ibu, kehamilan pada usia remaja, gangguan kesehatan mental pada ibu, jarak kelahiran yang terlalu dekat, serta hipertensi selama kehamilan. Selain itu, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk terbatasnya fasilitas sanitasi dan ketersediaan air bersih, juga menjadi faktor penting yang sangat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
BAGAIMANA CIRI-CIRI STUNTING?
Ciri-ciri stunting umumnya mulai tampak ketika anak memasuki usia 2 tahun. Namun, kondisi ini sering kali tidak disadari oleh orang tua dan kerap dianggap sebagai tubuh pendek yang normal. Beberapa gejala serta tanda yang dapat mengindikasikan anak mengalami stunting antara lain:
Tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan anak lain seusianya.
Berat badan tidak mengalami peningkatan secara konsisten.
Perkembangan anak lebih lambat dibandingkan teman sebayanya.
Anak kurang aktif saat bermain.
Sering terlihat lemah atau mudah lelah.
Lebih rentan terserang penyakit, terutama infeksi.
BAGAIMANA CARA PENCEGAHAN?
Stunting pada anak dapat berlanjut hingga memasuki usia dewasa. Oleh karena itu, sebelum kondisi ini menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, stunting perlu dicegah sejak dini. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting antara lain:
Menerapkan pola asuh anak yang baik dan sesuai kebutuhan.
Memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) secara optimal dan bergizi seimbang.
Segera mengobati penyakit yang dialami anak.
Menjaga serta meningkatkan kebersihan lingkungan sekitar.
Membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat dalam keluarga.
Atau untuk lebih mudah mengingatnya, Stunting dapat dicegah dengan melakukan ABCDE.
A: Aktif minum Tablet Tambah Darah (TTD)
Konsumsi TTD bagi remaja putri 1 tablet seminggu sekali. Dan konsumsi TTD bagi ibu hamil 1 tablet setiap hari (minimal 90 tablet selama kehamilan).
B: Bumil teratur periksa kehamilan minimal 6 kali
Periksa kehamilan minimal 6 (enam) kali, 2 (dua) kali oleh dokter menggunakan USG.
C: Cukupi konsumsi protein hewani
Konsumsi protein hewani setiap hari bagi bayi usia di atas 6 bulan.
D: Datang ke Posyandu setiap bulan
Datang dan lakukan pemantauan pertumbuhan (timbang dan ukur) dan perkembangan, serta imunisasi balita ke Posyandu setiap bulan.
E: Eksklusif ASI 6 bulan
ASI eksklusif (hanya konsumsi ASI saja) selama 6 bulan pertama, dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan melengkapi Makanan Pendamping ASI (MP ASI) tepat setelah berusia 6 bulan.